Rabu, 29 Agustus 2012

Kementerian Pendidikan Ternyata Mengakui bahwa RSBI sangat berpotensi Ciptakan Kasta

Kemdikbud Akui RSBI Ciptakan Kasta
Indra Akuntono | Inggried Dwi Wedhaswary |

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan Suyanto tak menampik kritikan keras berbagai pihak yang menilai bahwa keberadaan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) menciptakan kastanisasi di dunia pendidikan. Kritikan ini dilayangkan karena mahalnya biaya masuk sekolah berlabel RSBI, yang hanya mampu dijangkau kalangan mampu.

 Namun, menurut Suyanto, kasta yang diciptakan RSBI adalah kasta dari sisi akademik. Hidup kan memang ada kastanya. Di perusahaan kan juga ada kasta, katanya, Selasa (3/1/2011), di Gedung Kemdikbud, Jakarta.

Ia menilai, kontroversi yang mewarnai keberadaan RSBI selama ini hanya menyoroti RSBI dari sisi biaya pendidikan yang mahal. Padahal, menurut dia, tidak seluruh RSBI berbiaya mahal. Biaya tinggi, kata Suyanto, hanya terjadi di RSBI yang ada di wilayah DKI Jakarta. Dalam pantauannya, sejumlah daerah seperti Surabaya, Nunukan, dan Sulawesi Selatan memiliki peraturan daerah (Perda) yang mengatur RSBI sehingga terjangkau untuk semua kalangan.

Yang miskin diakomodasi di RSBI 20 persen. Tak salah punya sekolah yang bersifat center of excellent, kata Suyanto.

Dengan semakin menguatnya kritik terhadap RSBI, pemerintah saat ini menahan diri untuk tidak membuka atau memberikan status RSBI baru kepada sekolah-sekolah. Tak hanya itu, peningkatan status RSBI menjadi Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) juga dilakukan secara cermat dan hati-hati.

Bahkan, Suyanto mengakui, dari RSBI yang ada saat ini, belum ada yang layak ditingkatkan statusnya menjadi SBI. Kelemahan utama ada di sumber daya gurunya. Semangat pemerintah, guru RSBI itu harus S-2. Tetapi, banyak yang belum memenuhi standar itu maka harus terus didukung, kata Suyanto..............

Sumber :  http://pendidikan.net/reference42.html


Note : Pada kenyataan nya pada data Pendidikan Nasional ternyata siswa-siswi berprestasi juga bukan dari RSBI, Hmmmm.... sungguh tidak menjamin juga ya ternyata bahwa sekolah mahal itu pencetak orang-orang pintar?
yachh... karena kami orang biasa-biasa aja, kami cukup memilih sekolah negeri yang kami mampu aja, toh yang menentukan keberhasilan adalah dari diri kita sendiri sebagai murid dan juga keberhasilan guru sebagai pengajar kepada murid nya.



Minggu, 08 Januari 2012

Rabu, 04 Januari 2012

" 6 Pertanyaan yang Menyadarkan "




Suatu hari seorang Guru berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu beliau mengajukan enam pertanyaan.

Pertama.

"Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini ?"

Murid-muridnya ada yang menjawab..."orang tua", "guru", "teman", dan "kerabatnya". Sang Guru menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "kematian". Sebab kematian adalah PASTI adanya.

Lalu Sang Guru meneruskan pertanyaan kedua.

"Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini ?"

Murid-muridnya ada yang menjawab..."negara Cina", "bulan", "matahari", dan "bintang-bintang". Lalu Sang Guru menjelaskan bahwa semua jawaban yang diberikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah "masa lalu".
Siapapun kita, bagaimana pun kita, dan betapa kayanya kita, tetap kita TIDAK bisa kembali ke masa lalu. Sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang.

Sang Guru meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga.
"Apa yang paling besar di dunia ini ?"

Murid-muridnya ada yang menjawab..."gunung", "bumi", dan "matahari". Semua jawaban itu benar kata Sang Guru. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "nafsu".
Banyak manusia menjadi celaka karena memperturutkan hawa nafsunya. Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu. Karena itu, kita harus hati-hati dengan hawa nafsu ini, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka (atau kesengsaraan dunia dan akhirat).

Pertanyaan keempat adalah:
"Apa yang paling berat di dunia ini ?"

Di antara muridnya ada yang menjawab..."baja", "besi", dan "gajah". "Semua jawaban hampir benar", kata Sang Guru, tapi yang paling berat adalah "memegang amanah".

Pertanyaan yang kelima adalah:
"Apa yang paling ringan di dunia ini ?"

Ada yang menjawab "kapas", "angin", "debu", dan "daun-daunan". "Semua itu benar...", kata Sang Guru, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah "meninggalkan ibadah".

Lalu pertanyaan keenam adalah:
"Apakah yang paling tajam di dunia ini ?"

Murid-muridnya menjawab dengan serentak... "PEDANG...!! !". "(hampir) Benar...", kata Sang Guru , tetapi yang paling tajam adalah "lidah manusia".
Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

Sudahkah kita menjadi insan yang selalu ingat akan KEMATIAN..?

Senantiasa belajar dari MASA LALU..?

Dan tidak memperturutkan NAFSU..?

Sudahkah kita mampu MENGEMBAN AMANAH sekecil apapun..?

Dengan tidak MENINGGALKAN IBADAH
serta senantiasa MENJAGA LIDAH kita ?

Sumber: Kembang Anggrek

Yogyakarta  06-01-2012